Mencerahkan Indonesia (Yang) Gelap

Ulama Sang Pencerah Indonesia (Yang) Gelap

Oleh : Muhammad Syafii Kudo *

Setelah tagar #KaburSajaDulu, kini ada tagar baru yang sedang rame berseliweran di jagad maya tanah air. Yakni #IndonesiaGelap. Sebuah slogan yang hendak menunjukkan bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Tagar Indonesia Gelap sebenarnya punya korelasi kuat dengan tagar #kabursajadulu yang mengajak kaum muda untuk pergi ke luar negeri demi mencari kehidupan yang lebih baik sebab keadaan di Indonesia dinilai sedang tidak baik-baik saja atau Indonesia (sedang) Gelap, dalam bahasa sosial media warganet Indonesia. Dua tagar ini oleh para pengamat dianggap sebagai bentuk kritikan dari kaum muda Indonesia terhadap kebijakan penyelenggara negara saat ini. 

Dalam pandangan kaum muda yang mengumandangkan tagar tersebut, hidup di Indonesia kini dinilai semakin sulit. Mulai dari kian susahnya mencari pekerjaaan akibat berbagai syarat yang memberatkan dan dinilai absurd seperti syarat tinggi badan, penampilan menarik, mampu kerja di bawah tekanan dsj. Itupun masih ditambah dengan tidak adanya transparansi gaji dan tunjangan serta sistem kontrak pendek. Belum lagi kebijakan penguasa yang gemar menaikkan pajak bagi rakyat. Tentu ini dianggap kian mempersulit kehidupan masyarakat. Lalu juga mengenai layanan pendidikan, kesehatan dan kebutuhan primer (Sandang, Pangan, dan Papan) yang juga masih dikeluhkan karena tidak seluruhnya bisa dinikmati oleh masyarakat secara mudah. 

Nah, berbagai kesemrawutan sosial dan ekonomi inilah yang akhirnya disimpulkan sebagai fase Indonesia Gelap sehingga beberapa kalangan menyerukan untuk hijrah ke luar negeri lewat ajakan #kabursajadulu. Bahkan saat tulisan ini disusun, beberapa daerah termasuk Jakarta, sedang dilanda demo besar-besaran yang dilakukan oleh kalangan mahasiswa dan beberapa elemen rakyat yang menolak kebijakan pemangkasan anggaran oleh pemerintah.  Di Wamena, Papua,  para pelajar juga berdemonstrasi menolak program makan siang bergizi gratis dari Pemerintah pusat dan lebih memilih program pendidikan gratis.

Indonesia Gelap kian terejawantahkan dengan mencuatnya berbagai kasus ketidak-adilan sosial yang selama ini bagaikan fenomena gunung es yang perlahan mulai mencair ke permukaan. Ada kasus ketimpangan keadilan hukum seperti kasus Harvey Moeis cs. Ada kasus semrawutnya distribusi tabung elpiji bersubsidi untuk masyarakat bawah, yang  mirisnya ketika ada masyarakat yang mati akibat kelelahan saat antri di pangkalan elpiji, Menteri terkait hanya bilang maaf, seolah harga nyawa tak lebih dari harga tabung elpiji melon 3 kilogram. Dan tentu yang juga  makin membuat Indonesia gelap adalah terkuaknya kasus pencaplokan laut oleh para cukong yang melibatkan pejabat kementerian terkait. Kasus pemagaran laut di beberapa wilayah Indonesia terutama di Banten tersebut membuat rakyat bertanya-tanya, bagaimana bisa laut dapat dikeluarkan sertifikat kepemilikannya. 

Sumber Kegelapan Indonesia

Mengapa Indonesia semakin 'gelap'? Tentu banyak faktor yang bisa dituliskan, apalagi jika hanya dilihat dari kacamata ilmu akademik duniawi semata. Namun dalam worldview Islam, kerusakan sebuah negara yang salah satunya bercirikan banyaknya kesewenang-wenangan penguasa kepada rakyat adalah berasal dari rusaknya para Ulama di negara tersebut. Setidaknya inilah penjelasan Imam Ghazali Rahimahullah di dalam kitab Ihya’ Ulumiddin  yang berbunyi,

 ما فسدت الرعية إلا بفساد الملوك وما فسدت الملوك إلا بفساد العلماء 

"Tidaklah terjadi kerusakan terhadap rakyat kecuali dengan kerusakan penguasa, dan tidaklah rusak para penguasa kecuali dengan kerusakan para ulama."

Kemudian masih di kitab Ihya’ Ulumiddin disebutkan juga,

 ‎ففساد الرعايا بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على الأراذل فكيف على الملوك والأكابر والله المستعان على كل حال 

"Maka kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa, dan rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Dan rusaknya para ulama itu karena kecintaan mereka pada harta dan kedudukan. Barangsiapa yang terperdaya akan kecintaan terhadap dunia maka tidak akan mampu mengawasi hal-hal kecil, bagaimana pula dia hendak melakukannya kepada penguasa dan perkara besar? Semoga Allah menolong kita dalam semua hal."

Kecondongan Ulama pada dunia adalah bencana besar bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi umat di negeri tersebut. Karena jika ulama yang notabene merupakan pewaris para Nabi (HR. Tirmidzi dari Abu Darda' Radhiallahu ‘Anhu) sudah cinta dunia dan kedudukan (Hubbud Dunya wal Jah) maka dia dianggap sudah mengkhianati Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Sebab sebagaimana dikutip oleh Imam Ghazali Rahimahullah dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda,

‌العلماءُ أمناءُ الرسلِ على عباد الله ما لم يُخالِطُوا السلطان، ويَدْخُلُوا في الدنيا، فإذا خَالطوا ودخلوا في الدنيا فقد خَانُوا الرسلَ، فاعتزلوهم واحذروهم.

"Para ulama adalah pemegang amanah Rasul terhadap hamba-hamba Allah selagi mereka tidak bergaul dengan penguasa dan mereka tidak masuk ke dalam (urusan) dunia. Apabila mereka bergaul dengan penguasa dan masuk ke dalam (urusan) dunia, mereka akan mengkhianati para Rasul. Oleh karena itu, jauhilah mereka dan waspadalah terhadap mereka."(HR. Ad Dailami).(Ihya' Ulumuddin Juz 1 halaman 252, Cet. Darul Minhaj)

Seperti  diketahui bersama,  kasus sertifikasi HGB dan pemagaran laut di desa Kohod Tangerang, Banten, oleh Korporasi besar dengan bantuan oknum penguasa ditolak oleh hampir mayoritas masyarakat negeri ini, terutama para nelayan dan warga desa setempat. Namun mirisnya ada oknum Ulama yang justru mendukung pencaplokan laut oleh pihak konglomerasi tersebut dengan dalih mereka telah menghidupkan tanah yang mati dan proyek nasional tersebut dianggap akan membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. 

Pernyataan mantan petinggi ormas Islam tersebut tentu ditentang oleh mayoritas masyarakat Banten yang merasa tanah mereka selama ini telah dirampas. Bahkan Ulama karismatik dari Kasepuhan Banten sekaligus ketua AHWA (Ahlul hal wal Aqdi), KH. TB Fathul Adzim juga turut menolaknya. Bersama Sultan Banten, Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja, MBA, keduanya menolak keras PSN PIK-2 tersebut dengan slogan ‘Banten bukan Singapore, tidak akan pernah menjadi Singapore’.(Dusta Oknum Kyai)

Masyarakat tentu bertanya-tanya bagaimana bisa oknum Ulama aspirasinya berseberangan dengan rakyat dan malah mendukung taipan? Tentu tidak mudah menjawabnya. Namun jika diraba dengan berbagai penelusuran jejak digital yang ada, bisa jadi karena oknum tersebut punya hutang jasa kepada mereka. Sebab oknum tersebut pernah menduduki jabatan strategis (Komisaris Utama) di perusahaan milik konglomerat media besar di negeri ini dan beberapa jabatan tinggi di perusahaan besar swasta dan milik negara yang uniknya posisi strategis itu tidak selaras dengan latar pendidikan sang tokoh. Jadi wajar belaka ada rasa 'sungkan' jika tidak bisa membela kepentingan mereka meskipun harus bertentangan dengan kehendak rakyat.

Padahal Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) 2025 telah menetapkan bahwa kepemilikan laut atas nama individu ataupun korporasi hukumnya haram. Ketua Sidang Komisi Waqi'iyah Munas, Muhammad Cholil Nafis menegaskan bahwa laut tidak bisa dimiliki siapa pun. 

"Laut tidak bisa dimiliki baik oleh individu maupun korporasi," kata Nafis dalam jumpa pers di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (6/2/2025) malam. Nafis juga mengatakan, negara tidak boleh menerbitkan sertifikat kepemilikan laut. (PBNU Mengharamkan Pencaplokan Laut)

Ini artinya tidak semua Ulama bisa dibeli dan dipesan fatwanya. Buktinya NU, Muhammadiyah dan MUI kompak menyatakan fatwa yang sama. Yakni tegas menolak pemagaran laut untuk proyek nasional PIK 2 tersebut. Ini semakin memperkuat pernyataan Imam Ghazali yang menyatakan bahwa Ulama itu terdiri dari dua jenis yaitu Ulama Akhirat (Lurus) dan Ulama Su' (Ulama Jahat alias Ulama Duniawi). Ulama Su' inilah yang sering mencari dunia dengan menjual agama. Dan Ulama Su' inilah yang lebih ditakutkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam atas umatnya melebihi Dajjal.

Salah satu ciri khas Ulama Su' adalah gemar berkumpul dengan penguasa namun bukan untuk beramar makruf nahi munkar terhadap mereka melainkan mencari kedudukan. 

Maimun bin Mihran Rahimahullah berkata,

صحبة السلطان خطر عظيم ، فإنك إن أطعته خاطرت بدينك، وإن عصيته خاطرت بنفسك, فالسلامة أن لا تعرفه ولا يعرفك

"Bersahabat dengan penguasa adalah ke-bahaya-an yang besar. Jika kamu menaatinya, kamu mempertaruhkan agamamu, dan jika kamu tidak menaatinya, kamu mempertaruhkan keselamatan dirimu sendiri. Maka (yang dimaksud) keselamatan adalah (ketika) kamu tidak mengenalnya dan dia tidak mengenalmu."

Bahkan diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Dinar Rahimahullah pernah berkirim surat kepada Imam Zuhri ketika ia dinilai oleh Malik bin Dinar mulai gemar nimbrung dengan penguasa. Imam Malik berkata, "Semoga Allah melindungi kita wahai saudaraku daripada jatuhnya kamu ke dalam berbagai fitnah setelah dirimu yang seorang Alim besar dan sepuh (malah) menutup usiamu dengan membersamai penguasa. Dan engkau membuat dalil-dalil pembelaan kepada mereka ketika ada seseorang yang menolak (kedzaliman) mereka. Walaupun mungkin kedekatanmu terhadap mereka (penguasa) hanyalah untuk menentramkan hati mereka...,maka hal itu cukup bagimu termasuk bagian daripada dosa." Kemudian Imam Malik bin Dinar mendiamkan (memboikot) Imam Zuhri hingga beliau meninggal dunia. (Tanbihul Mughtarin Lil Imam Sya'roni, hal 281, cet. Darul Kutub Islamiyah Jakarta). 

Lihat bagaimana sindiran Imam Malik bin Dinar terhadap Ulama yang gemar membuat dalil-dalil pembelaan kepada penguasa ketika ada masyarakat yang melawan kedholiman mereka. Dan fenomena Ulama “tukang stempel” penguasa itu nyatanya terus ada sampai saat ini. Padahal Imam Ghazali telah mewanti-wanti para Ulama agar berhati-hati terhadap kekuasaan. Beliau mengatakan,

فمخالطتهم مفتاح لشرور، وعلماء الآخرة طريقهم الاحتياط 

"Maka bergaul (bercampur) dengan mereka (Penguasa) adalah kunci kepada keburukan-keburukan. Dan Thariqah (jalan) Ulama Akhirat adalah kehati-hatian terhadap agama mereka."(Ihya' Ulumuddin Juz I; Hal. 251; Cet. Darul Minhaj)

Ulama sejati adalah mereka yang berhati-hati terhadap dunia. Mereka tidak mau mendekat kepada penguasa kecuali jika untuk Amar Makruf Nahi Mungkar kepada mereka. Ulama bertugas "ngemong" umat dan menjaga hukum-hukum agama Allah. Mereka juga harus berada di garda terdepan dalam meluruskan kebengkokan penguasa bukan malah menjadi pembisik istana demi cuan bagi diri dan kelompoknya. 

Ulama adalah pelita bagi manusia di zamannya. Disebutkan di dalam kitab Al Ibanatul Kubro Li Ibni Batoh,

حدثنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن أبي سهل الحربي ، قال : ثنا أبو العباس أحمد بن محمد بن مسروق الطوسي ، قال : ثنا محمد بن الحسين ، قال : ثنا عبيد الله بن محمد ، قال : ثنا سلمة بن سعيد ، قال : كان يقال العلماء سرج الأزمنة فكل عالم مصباح زمانه فيه يستضيء أهل عصره 

"Dikatakan bahwa Ulama adalah pelita zaman. Maka setiap Alim (Ulama) adalah lampu (penerang) zamannya yang padanya para manusia di zaman tersebut mendapatkan pencerahan (dari kegelapan)." (Ibnu Batoh Ubaidillah bin Muhammad bin Batoh Al Akbari Al Hanbali; Al Ibanatul Kubro Li Ibni Batoh Juz 2 Hal 204) 

Jika benar hari ini Indonesia (sedang) gelap maka seharusnya Ulama (sesuai tupoksinya) menjadi pelita bagi rakyat untuk memberi pencerahan kepada mereka. Ulama harus  membersamai rakyat yang sedang kesusahan sembari memberi siraman petuah ilahi agar menguatkan kesabaran menghadapi keadaan Indonesia saat ini. Dan di sisi yang lain Ulama harus berani "menjewer" penguasa agar lekas merevisi kebijakan-kebijakan yang menyusahkan rakyat. Jika Ulama baik maka baik pula penguasa di sebuah negeri. Dan jika penguasa suatu negeri sudah baik dalam bimbingan Ulama maka rakyat di negeri tersebut akan menjadi masyarakat yang baik, tentram dan aman. Idealnya seperti itu. Semoga Allah lekas mencerahkan Indonesia dari kegelapan ini. Wallahu A'lam Bis Showab.

Dimuat Di: 

https://hidayatullah.com/artikel/2025/02/21/290223/ulama-dan-pentingnya-mencerahkan-indonesia-yang-gelap.html










BACA JUGA

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama