Maraknya Penyelewengan Amanah Sebagai Tanda Kiamat
Oleh : Muhammad Syafii Kudo
Telah sampai umat Islam kepada bulan Sya'ban. Sebuah bulan mulia yang sering disepelekan oleh manusia sebab berada di antara dua bulan agung yakni Rajab dan Ramadhan (HR. Ahmad, an Nasa'i, dan Al Baihaqi). Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan Sya'ban di antaranya adalah peristiwa pemindahan kiblat sholat dari yang semula menghadap ke Masjidil Aqsha beralih ke Masjidil Haram (Al Jami' Li Ahkamil Qur'an Lil Qurtubi, 2/150) dan ada juga perisitiwa terbelahnya bulan sebagai salah satu bentuk mukjizat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Disebutkan di dalam Al-Qur'an bahwa Allah SWT berfirman,
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
"Telah dekat (datangnya) saat itu (kiamat) dan telah terbelah bulan." (QS. Al Qomar : 1)
Ada satu poin menarik yang ingin penulis garis bawahi dalam ayat tersebut yakni kabar langit mengenai semakin dekatnya hari kiamat dengan salah satu tandanya berupa telah dibelahnya bulan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Peristiwa yang terjadi di malam nisfu Sya'ban tersebut adalah salah satu mukjizat beliau untuk membungkam kebebalan kafir Quraisy saat itu yang meminta beliau melakukannya, meskipun pada akhirnya mereka tetap saja kekeuh mengingkari risalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.
Sebenarnya ada banyak tanda kiamat (kecil) yang menjadi signal semakin dekatnya hari penghabisan. Bukan hanya berupa peristiwa fenomena alam dan kerusakan ekologis belaka namun juga termasuk semakin meratanya kerusakan akhlak dengan dilanggarnya norma-norma agama di tengah kehidupan masyarakat. Di antaranya yang disebutkan di dalam Hadis,
حدثنا محمد بن سنان حدثنا فليح بن سليمان حدثنا هلال بن علي عن عطاء بن يسار عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ، إذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة قال كيف إضاعتها يا رسول الله؟ قال : إذا أسند الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة
"Ketika amanah (telah) disia-siakan maka tunggulah saat datangnya kiamat. (Kemudian bertanya) si penanya, "Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu ya Rasulullah?" Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam menjawab, "Ketika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah datangnya hari kiamat." (HR. Bukhori)
Hadis mengenai penyelewengan amanah tersebut sangat relevan dengan yang terjadi di Republik ini sekarang. Bahkan jika boleh dibilang, pengejawantahan dari hadis tersebut sangat nyata telah dilakukan di negara ini. Kini betapa banyak mega kasus penyalahgunaan kekuasaan (KKN) yang mulai banyak terungkap ke publik. Amanah yang diserahkan oleh rakyat "secara paksa" lewat mekanisme Pemilu lima tahunan yang banyak diwarnai cara-cara kotor tersebut kini banyak dikhianati bahkan mirisnya secara terstruktur, sistematis, dan masiv (TSM). Mengapa penulis sebut amanah rakyat diserahkan secara paksa? Sebab sistem pemilu yang ada saat ini tidak jarang mengharuskan rakyat untuk memilih para calon wakil rakyat yang tidak mereka ketahui sepak terjangnya. Dan masih pula dilumuri politik uang yang kian menambah kotornya cara amanah rakyat tersebut didapatkan. Hasilnya? Kini didapatilah banyak wakil rakyat yang justru mengkhianati aspirasi rakyat dan malah menyengsarakan rakyat.
Lihat betapa banyak saat ini kita saksikan para oknum anggota DPR yang terjerat kasus korupsi. Ada pula oknum hakim yang menerima suap dalam kasus yang melibatkan anak pejabat serta hakim yang memutuskan masa hukuman yang sangat ringan kepada maling uang negara ratusan triliun dengan alasan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Serta ada pula oknum aparat yang melakukan pemerasan milyaran rupiah dalam penyelesaian beberapa kasus dll. Semua ini adalah bentuk nyata penyelewengan amanah yang dilakukan oleh para elite politik di negeri ini.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh jaringan global antikorupsi, yakni Transparency International, pada 2024 Indonesia berada di urutan ke-115 dari 180 negara dengan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 34. Skor IPK yang hanya 34 membuat peringkat Indonesia merosot dari 110 pada 2022 menjadi 115 pada 2023. Jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, peringkat IPK Indonesia jauh di bawah negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Singapura berada di peringkat teratas negara ASEAN dengan IPK 83 dari skala 100 dan mendapatkan peringkat kelima negara dengan IPK tertinggi di dunia. Sementara itu, Malaysia memiliki IPK dengan skor 50, Timor Leste dengan IPK 43, Vietnam dengan skor 41, dan Thailand dengan IPK 35. Inilah paradoks besar Indonesia sebagai sebuah negara yang mendaku sebagai negara bertuhan.(Daftar Negara Terkorup)
Disebutkan di dalam kitab Syarhul Yaqut an Nafis (2/283) bahwa ayat Al Qur'an yang berbunyi,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَماناتِ إِلى أَهْلِها
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya" (QS. An Nisa' : 58), adalah satu-satunya ayat yang turun kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam di dalam Ka'bah. (Lihat Al Fawaidul Mukhtaroh Lisalikil Thariqotul Akhiroh, Habib Ali bin Hasan Baharun, cet. Ma'had Darul Lughah Wa Dakwah Bangil, Hal 251)
Dari penjelasan tersebut kita bisa memahami betapa agungnya nilai amanah di sisi Allah hingga satu-satunya ayat Al Qur'an yang diturunkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam di dalam Ka'bah adalah ayat perintah untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak alias tidak sembarang orang.
Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu mengatakan bahwa di hari kiamat kelak seseorang diajukan (ke hadapan peradilan Allah). Jika lelaki itu gugur di jalan Allah, dikatakan kepadanya, "Tunaikanlah amanatmu." Maka lelaki itu menjawab, "Bagaimana aku akan menunaikannya, sedangkan dunia telah tiada?" Maka amanat menyerupakan dirinya dalam bentuk sesuatu yang terpadat di dalam dasar neraka Jahannam. Maka lelaki itu turun ke dasar neraka, lalu memikulnya di atas pundaknya. Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa setiap kali ia mengangkat amanat itu, maka amanat itu terjatuh dari pundaknya, lalu ia pun ikut terjatuh ke dasar neraka; begitulah selama-lamanya. Zazan mengatakan bahwa lalu ia datang menemui Al-Barra ibnu Azib dan menceritakan hal tersebut kepada Al-Barra. Maka Al-Barra mengatakan, "Benarlah apa yang dikatakan oleh saudaraku." Lalu ia membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. (An-Nisa: 58)
Inilah beratnya amanah sehingga pantas jika Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam menyatakan,
ولقد كان عليه الصلاة والسلام يوصي بالأمانة وحفظها، ويحذر من التفريط فيها وضياعها في كثير من خطبه عليه الصلاة والسلام، فقد روى الإمام أحمد رحمه الله عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: ما خطبنا نبي الله صلى الله عليه وسلم إلا قال: «لا إيمان لمن لا أمانة له، ولا دين لمن لا عهد له
Adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam mewasiatkan tentang perkara amanah dan menjaganya. Dan hati-hati daripada melampaui batas di dalam perkara amanah....lalu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,"Tidak ada iman bagi orang yang tidak ada (menjalankan) amanah baginya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak ada perjanjian atasnya."(HR. Ahmad)
Jika menilik hadis tersebut tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa para elite politik negara ini mulai mengarah kepada kelompok manusia yang pelan-pelan mulai kehilangan iman sebab perilaku bobrok mereka yang suka menyelewengkan amanah telah jauh kelewat batas.
Walhasil marilah bulan Sya'ban yang merupakan bulan Nabi ini kita jadikan momentum bersama untuk memperbaiki diri meneladani Al Amin Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam adalah figur sempurna (Insan Kamil) yang merupakan teladan (Uswatun Hasanah) bagi manusia. Beliau insan terpercaya yang sudah mendapatkan gelar Al Amin bahkan sebelum diangkat sebagai Rasul. Dan rakyat Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam harusnya bisa mencontoh perilaku amanah beliau Shalallahu Alaihi Wa Sallam tersebut. Wallahu A'lam Bis Showab.